Dunia Anak: Bermain adalah Belajar


Bermain sangat identik dengan tumbuh kembang anak. Bagi anak, bermain merupakan sarana belajar yang menyenangkan, sehingga ketika anak bermain, sebenarnya mereka sedang mempelajari sesuatu. Misalnya ketika bermain air, anak melihat ada benda yang terapung dan benda yang tenggelam ketika dimasukkan ke dalam air.

Bermain untuk anak sebaiknya menerapkan prinsip pada permainan yang terintegrasi dan berpusat pada anak. Apa maksudnya?

Permainan yang terintegrasi yaitu menciptakan permainan yang melibatkan berbagai macam aspek perkembangan, seperti bahasa, motorik, sosial, emosional dan kognitif. Misalnya bermain peran menggunakan boneka tangan, memasak, prakarya dengan barang bekas dan sebagainya.

Selain terintegrasi, permainan juga harus berpusat pada anak, maksudnya permainan yang dilakukan oleh anak berdasarkan pada kebutuhan dan kondisi mereka, bukan berdasarkan keinginan dan kemampuan orang tua, guru atau pengasuh.

Dengan menerapkan permainan yang berpusat pada anak, mereka akan tumbuh dengan baik ketika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Dengan mempertimbangkan keunikan dari masing-masing anak, belajar akan menjadi bagian yang menyenangkan dalam hidup anak, bukan menjadi beban.

Dalam permainan yang berpusat pada anak, orang tua atau guru berperan sebagai fasilitator dan mediator dari proses pembelajaran yang merancang kesempatan bagi anak untuk memilih kegiatan yang akan dilakukan.

Penerapan permainan yang terintegrasi dan berpusat pada anak akan membantu mereka untuk mampu membuat pilihan, belajar bertanggung jawab, menghargai diri mereka sendiri dan orang lain, mampu mengungkapkan ide dan pikirannya sendiri, menjadi pemikir yang kritis, mampu mendeteksi dan memecahkan masalah, menjadi kreatif, imajinatif dan memiliki wawasan luas, peduli dengan masyarakat dan lingkungan.

Berikut ini beberapa ciri ketika orang tua atau guru telah menerapkan prinsip permainan yang terintegrasi dan berpusat pada anak:

1. Anak memiliki waktu yang cukup untuk menjelajahi lingkungan.

2. Memiliki kesempatan untuk belajar melalui berbagai cara, misalnya memasak, menulis atau bermain peran.

3. Anak memiliki tempat yang aman untuk mengenali perasaan mereka, berbuat kesalahan dan menyelesaikan konflik.

4. Memiliki kesempatan untuk memilih kegiatan apa yang ingin mereka lakukan.

5. Anak memiliki tempat untuk memamerkan hasil pekerjaan mereka.

6. Guru terutama orang tua menyempatkan untuk mengamati anak-anak bekerja dan bermain.

7. Guru atau orang tua menunjukkan penghargaan terhadap anak dan menghargai gagasan-gagasan mereka.

8. Mendorong anak untuk memecahkan masalah mereka sendiri dan menghargai sesamanya. Memberikan pertanyaan yang merangsang untuk anak berpikir.

Ketika prinsip tersebut sudah diterapkan, diharapkan akan terbentuk anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar mulai dari usia dini hingga akhir hanyatnya sehingga belajar bukan lagi suatu beban

Artikel Terkait

Dunia Anak: Bermain adalah Belajar
4 / 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email